Dari Pasar ke Pesantren : Kisah Kedekatan Sosial Syekh Abdurrahman Falogah

Foto: Istimewa

Siapakah ulama itu? Dia sosok yang berwibawa. Jika dia lewat, semua orang menganggukkan wajah tanda takzim. Jika dia datang, semua orang menyambutnya. Jika dia berbicara, semua orang mendengarkan. Kewibawaan bertambah jika busananya memang identik dengan ulama; penutup kepala tegak, gamis putih, serban menjuntai, plus tongkat di tangan. Rasa-rasanya, begitulah sosok ulama. Di mana-mana begitu persepsi tentang ulama, tak terkecuali di Pontianak, Kalimantan Barat, tempat saya tinggal.

Apakah ulama dengan posisi begitu dihormati dan disanjung keliru? Tidak. Sama sekali tidak. Apaka atribut yang menempel pada tubuh ulama selama ini keliru? Tidak. Sama sekali tidak. Apakah persepsi masyarakat atas ulama yang demikian itu keliaru? Tidak. Sama sekali tidak.

Begitulah “adat”-nya ulama dan masyarakat. Dan adat kagum, keguman pada seorang sosok idola, bukan khas Islam, bukan khas ulama, bukan khas Pontianak. Di banyak kebudayaan adat seperti itu juga berlangsung. Di dunia politik, terjadi. Di dunia seni, film atau musik terjadi. Di dunia otomotif, terjadi. Di dunia olahraga, pun terjadi. Kita tahu misalnya jika orang mengagumi Ronaldo dalam sepakbola; tingkahnya diceritakan, gaya rambutnya ditiru, pernak-perniknya didbeli, permaiannya di lapangan hijau tidak berhenti ditonton, meskipun itu dinihari pukul 02.00.

Namun, pasti ada kekecualian yang saya saksikan. Ada sosok ulama, di Pontianak beliau adalah Syaikh Abdurrahman Falogah, bagi masyarakat Melayu beliau merupakan sosok ulama yang sederhana dalam penampilan tapi sangat kharismatik dalam akhlak dan budi pekerti sosial terhadap masyarakat Kota Pontianak. 

Budaya dan keislaman masyarakat kota Pontianak sangat kental dengan budaya Arab dan habaib, tentunya itu semua tidak terlepas pengaruh dari pendirian kota Pontianak yang didirikan oleh Sultan Abdurrahman Al Qadri yang berketurunan Arab Yaman dan jejak Ulama-ulama yang menyebarkan agama Islam di Kota Pontianak.

Beliau merupakan tokoh keagamaan yang juga memiliki andil dalam penyebaran agama Islam di Pontianak, terlebih pemahaman Tasawuf dan Tariqah. Beliau adalah keturunan Arab dari wilayah Hadhramaut Yaman, dilahirkan pada 5 Februari 1966 M / 14 Syawal 1385 H. Ayahnya bernama Husin bin Salim bin Ahmad, sementara ibunya bernama Jamilah binti Ahmad bin Ali Saewad.

Sosok Syekh Abdurrahman Falogah telah banyak belajar dan menimba ilmu baik di Kalimantan Barat maupun di tanah Jawa, pada saat masih kecil beliau sudah belajar di Pondok Pesantren Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil Pasuruan. Setelah 6 tahun dari sana, beliau mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan di Syiria pada tahun 1983 M. Namun, keberangkatan beliau terhambat akibat adanya kerusuhan di perbatasan negara Syiria. Hingga akhirnya beliau memutuskan kembali ke Pontianak dan belajar kepada berbagai guru seperti Habib Sholeh Al-Haddad, Syaikh Abdul Rani Mahmud Al Yamani, Ustadz Thoyyib Saman, dan ulama-ulama yang lain.

Beliau dikenal sebagai sosok guru karismatik, kedekatan sosial dengan masyarakat juga menjadi ciri khas yang melekat pada kepribadian beliau. Selain beliau juga sebagai pengasuh Pondok Pesantren Manba’usshafa Kp. Arab Pontianak, beliau juga menjadi Guru Besar Thariqat Qadariyah Khalidiyah. Yang menakjubkan bagi para santri dan murid beliau, walaupun kedudukan jabatan dan kealiman beliau tidak diragukan lagi, dari kalangan masyarakat biasa sampai pejabat pemerintahan sangat menghormati beliau, tapi keseharian beliau jalani seperti masyarakat biasa, bahkan beliau juga memiliki profesi sebagai pedagang di Pasar Tengah. 

Kisah kedekatan beliau dengan para murid bukan menjadi rahasia umum lagi, beliau sudah dianggap sebagai seseorang Guru yang mendidik jasad dan ruh, jika berada di pasar beliau berpakaian seperti pedagang, tidak menggunakan peci, baju yang digunakan pun baju kemeja lengan pendek, dan beliau memiliki ciri khas menggunakan celana kain panjang, ketika sampai ke pesantren, beliau tetap berpenampilan dari pasar cuma ditambah menggunakan peci putih biasa. Jika setelah selesai mengajar beliau kembali lagi melanjutkan untuk berjualan di Pasar Tengah, pasar legendaris dan tertua di Kota Pontianak. 

Siapa sangka, walaupun kesibukan beliau padat dimulai dari berdagang, mengajar pesantren, mengajar majelis ta’lim, beliau pasti melayani untuk bertemu siapapun yang hendak ingin bertanya terkait hukum, atau persoalan rumah tangga, bahkan hanya ingin duduk santai bersama beliau. 

Pengajian yang sering jama’ah hadiri adalah pengajian kitab Al Hikam karya Imam Athaillah As Sakandari setiap Jum’at malam di Pondok Pesantren Manba’usshafa, dari berbagai kalangan yang hadir, pejabat, pengusaha, tetangga, dan kerabat beliau sendiri, setelah selesai pengajian beliau pasti melayani para jama’ah baik ingin sowan, silaturahmi, atau meminta doa dari beliau.

Hingga suatu ketika, ada kesempatan beliau diminta untuk mengisi pengajian, beliau ditemani sahabat-sahabat untuk menuju tempat acara, dengan menggunakan pakaian layaknya orang biasa, sedangkan sahabat-sahabat beliau ada yang menggunakan pakaian gamis dan sorban, sehingga ketika sampainya rombongan beliau di tempat acara, tuan rumah menyambut sahabat beliau yang menggunakan pakaian layaknya Ustadz yang akan mengisi pengajian, sedangkan beliau hanya tersenyum dan seakan-akan tidak dianggap kedatangannya.

Bilamana beliau ditengah masyarakat layaknya orang biasa, kedekatannya dengan masyarakat umum dianggap seperti bukan Ustadz, guru bahkan tokoh yang disegani. Tentunya ini adalah ciri khas metode dakwah yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang memiliki kedalaman ilmu, dan budi pekerti yang lemah lembut.

Sebagian Kiai dan Ustadz yang biasa mengisi pengajian, baik dalam rangka acara peringatan hari besar Islam, hajatan Aqiqah, maupun walimatul Safar, Kiai atau Ustadz harus bisa berpenampilan yang wibawa, mungkin ini sebagian anggapan bahwa Kiai dan Ustadz harus lebih menjaga marwah? Tapi tidak semua pandangan tersebut dianggap benar, tergantung pandangan orang lagi, cuma kebanyakan Kiai dan Ustadz yang lebih mementingkan penampilan terkadang dari penyampaian ilmu di sebuah pengajian kadang tidak memiliki kedalaman ilmu pengetahuan, sehingga perang Kiai dan Ustadz ditengah masyarakat hanya sebatas hiburan semata, bukan sebagai penuntun dalam kehidupan.

Aris
Aris

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *