
Gus Dur pernah berkata: Di dunia ini hanya ada dua masalah. Pertama, masalah yang bisa diselesaikan. Kalau bisa diselesaikan, tidak perlu dipusingkan sebab bisa diselesaikan. Kedua, masalah yang tidak dapat diselesaikan. Kalau memang tidak bisa diselesaikan, mengapa harus dipikirkan?😊
Semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa ungkapan ini bukan sekadar lelucon. Ia sedang menampar kesombongan yang paling halus dalam diri manusia.
Dalam banyak keadaan, seseorang bisa saja memikul masalah yang berat, menyimpan dosa yang belum sempat ditaubati, dihimpit kesulitan ekonomi, bahkan memiliki masa lalu yang kelam. Namun, ia masih mampu tersenyum, bercanda, menikmati secangkir kopi, dan menjalani hidup dengan langkah yang ringan.
Sebagian orang mungkin menilai sikap santai sebagai tanda kurangnya rasa malu atau rendahnya harga diri. Penilaian itu mungkin ada benarnya dalam sebagian keadaan. Namun, jika kita melihat dari sudut pandang yang lebih dalam, barangkali ada pelajaran yang tidak banyak disadari.
Bukankah tidak ada satu manusia pun yang sempurna?
Bukankah selain para nabi, setiap anak Adam pasti pernah salah, lupa, tergelincir, dan berdosa?
Kalau demikian, mengapa kita harus hidup seolah-olah tak layak untuk salah, tak layak punya masalah tak layak dipandang hina??
Ya, di beberapa budaya lain, kegagalan atau aib sering dipandang sebagai sesuatu yang begitu menghancurkan harga diri. Sebagian orang merasa hidupnya telah berakhir, Ada yang tenggelam dalam penyesalan berkepanjangan, bahkan tidak sedikit yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Maka begitu sulit membedakan antara putus asa dan sombong.
Dalam tradisi tasawuf, ada sebuah kesadaran bahwa manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang lemah. Ia bukan malaikat yang selalu taat, bukan pula Tuhan yang Mahasempurna. Ia adalah hamba yang jatuh, lalu bangkit. Salah, lalu bertaubat. Lupa, lalu mengingat kembali.
Di titik inilah seharusnya seseorang belajar menerima dirinya, bukan untuk membenarkan dosa, tetapi untuk mengakui hakikat dirinya sebagai hamba yang selalu membutuhkan rahmat Allah.
Orang yang mengenal dirinya tidak akan terlalu bangga ketika dipuji, dan tidak akan hancur ketika dicela. Ia tahu bahwa kemuliaan bukan terletak pada tidak pernah jatuh, melainkan pada kesediaan untuk terus kembali kepada Allah setiap kali terjatuh.
Inilah yang oleh sebagian ulama tasawuf disebut sebagai maqam kerendahan hati. Seseorang tidak lagi sibuk mempertahankan citra dirinya di hadapan manusia, tetapi lebih sibuk memperbaiki hubungannya dengan Rabb-nya.
Karena itulah, kita musti mampu tersenyum di tengah luka, dan di balik kekurangan. Bukan karena menganggap dosa itu ringan, bukan pula karena kehilangan rasa malu, tetapi karena secara naluriah mereka sadar bahwa hidup ini memang tempat manusia belajar, bukan tempat manusia menjadi sempurna.
Tasawuf tidak mengajarkan kita untuk bangga dengan kesalahan. Sebaliknya, ia mengajarkan agar kita tidak berputus asa karena kesalahan. Sebab yang membinasakan bukanlah dosa itu sendiri, melainkan putus asa dan merasa tidak lagi pantas kembali kepada-Nya atau sebaliknya merasa dirinya terlalu mahal untuk terjatuh.
Itulah sebabnya seorang sufi tidak sibuk membanggakan dirinya, tidak pula tenggelam dalam kebencian terhadap dirinya. Ia hidup di antara rasa takut kepada Allah dan harapan akan rahmat-Nya khouf dan roja’.
Maka mungkin kebijaksanaan yang paling tinggi bukanlah hidup tanpa cela, hidup tanpa masalah, melainkan mampu berkata dengan tulus, “Ya Allah, aku hanyalah hamba yang tak mampu melakukan apa-apa tanpa pertolongan MU.
Banyak orang hancur bukan karena dosanya, bukan karena masalahnya, tetapi karena ia mengira dirinya harus sempurna. Padahal Allah tidak pernah meminta manusia menjadi malaikat, apalagi menjadi tuhan kecil…
Imam Manshur Alumni Pondok Pesantren Subulussalam Sriwangi Blitang Oku Timur Sumatera Selatan







