Kita Tidak Sepenting Itu

Foto : AI Gemini

Setelah seseorang meninggal dunia, orang-orang akan mengenangnya selama berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun. 
Namanya masih disebut, kisahnya masih diceritakan, dan kepergiannya masih menyisakan kesedihan. 

Namun, seiring berjalannya waktu, perlahan-lahan ingatan itu mulai memudar. Bukan karena orang-orang sengaja melupakannya, melainkan karena kehidupan terus berjalan, sementara urusan dan pekerjaan semakin menyibukkan..

Mengapa demikian? Mari kita tengok diri kita sendiri. Berapa banyak orang yang telah mendahului kita, yang dahulu kepergiannya begitu membekas di hati, tetapi sekarang namanya pun jarang kita ingat? Kalaupun sesekali teringat, apakah rasa kehilangan itu masih sama seperti ketika pertama kali menyaksikan kepergiannya?  

Waktu perlahan mengubah segalanya. Kesedihan yang dahulu begitu dalam, sedikit demi sedikit menjadi kenangan, lalu semakin jauh tertutup oleh kesibukan dan akhirnya nyaris terlupakan, Begitulah fitrah manusia.

Kita menjalani hari demi hari tanpa sempat memikirkan mereka yang telah berada di alam kubur. Entah sudah berapa lama mereka meninggalkan dunia, sedang apa mereka disana, sementara kita yang dahulu mengenal mereka kini kembali tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Dan apa yang hari ini kita lakukan terhadap mereka, suatu saat nanti akan terjadi pula pada kita.  

Orang-orang akan menangisi kita, mengenang kita, lalu perlahan-lahan kembali menjalani kehidupan mereka.

Mungkin orang yang paling lama mengingat kita adalah anak-anak dan cucu-cucu kita. Mereka masih menyimpan kenangan tentang wajah kita, suara kita, dan kisah-kisah yang pernah kita tinggalkan. Namun, ketika generasi demi generasi berlalu, ketika anak-anak dan cucu-cucu kita pun telah tiada, siapa lagi yang akan mengingat kita?  

Siapa yang mengenal kisah hidup kita? Siapa yang masih mengingat wajah kita? Bahkan, bisa jadi, orang-orang yang hidup jauh setelah kita tidak pernah tahu bahwa dahulu kita pernah ada.

Begitulah sunnatullah kehidupan. Dunia terus berputar, generasi demi generasi datang silih berganti, Wajah-wajah berganti, nama-nama terlupakan, dan kehidupan terus berjalan seolah tidak pernah berhenti.

Lalu, jika demikian, sepenting apakah diri kita? Sepenting apakah pujian dan penghormatan manusia? Sepenting apakah penilaian manusia terhadap diri seseorang?? Padahal itu semua akan terlupakan.

Maka sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

النَّاسُ نِيَامٌ، فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا

“Manusia itu sedang tidur, ketika mereka mati, barulah mereka terbangun.”

Ketika kematian tiba, barulah kita menyadari betapa banyak waktu yang telah kita habiskan untuk sesuatu yang ternyata tidak berarti, dan ternyata tidak sepenting yang kita bayangkan…

Maka mungkin biarlah manusia mengingat atau melupakan kita, sebab yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menjalani kehidupan ini sebelum tiba saatnya kita yang hanya menjadi kenangan lalu terlupakan.

Dan pada saat itu, kita akan mengerti bahwa yang paling penting bukanlah seberapa lama manusia mengingat kita, melainkan apa yang telah kita persiapkan untuk kehidupan setelah kematian.

Imam Manshur Alumni Pondok Pesantren Subulussalam Sriwangi Blitang Oku Timur Sumatera Selatan

Admin Ikhbarneo
Admin Ikhbarneo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *