Niat Baik Saja Tidak Cukup

Foto : Pexels
Foto: Pexels

Ada satu kesalahan yang sering tidak disadari oleh orang-orang awam dalam beragama, yaitu ketika mereka meyakini:
“Yang penting niatnya baik.”
“Yang penting niatnya benar.”

Kalimat ini tidak sepenuhnya salah. Bahkan niat memang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam agama. Amal tanpa niat yang benar tidak akan bernilai di sisi Allah.

Namun, yang perlu kita pahami adalah: niat baik saja tidak cukup.
Sebab dalam agama ini, bukan hanya niat yang dituntut, tetapi juga cara yang benar.
Niat yang baik tidak otomatis menjadikan sebuah perbuatan menjadi benar.

Diriwayatkan suatu ketika ada seorang lelaki datang ke masjid nabawi dan melaksanakan shalat.
Setelah selesai, Rasulullah saw menegur nya:

ارجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

“Kembalilah dan ulangi shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum shalat.”
Lelaki itu pun kembali dan shalat seperti sebelumnya.
Namun Rasulullah ﷺ kembali menyuruhnya mengulangi. Bahkan sampai beberapa kali.
Sampai akhirnya lelaki itu berkata:

وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا فَعَلِّمْنِي

“Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak mampu melakukan selain seperti ini. Maka ajarilah aku.”
Maka kemudian Rasulullah ﷺ mengajarinya tata cara shalat yang benar.

Apa kesimpulan dari kisah tersebut?
Niat untuk shalat memang ada. Ia datang untuk beribadah kepada Allah. Tetapi niat baik saja tidak cukup. Ia juga harus mengetahui bagaimana cara beribadah yang benar.

Dikisahkan lagi ada seorang Arab Badui yang sedang membaca Al-Qur’an. Kebetulan bacaannya didengar oleh Sayyidina Umar bin Khattab رضي الله عنه.
Ia membaca QS. At-Taubah ayat 3:

أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ

Artinya:
“Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik, demikian pula Rasul-Nya.”
Namun lafaz وَرَسُولُهُ (wa rasūluhu) yang seharusnya dibaca dhammah, justru dibaca kasrah menjadi وَرَسُولِهِ (wa rasūlihi).
Akibatnya, makna dan maksudnya berubah jauh:
“Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan Rasul-Nya.”

Betapa berbahayanya jika kesalahan semacam ini dibiarkan.
Tanpa disadari, kesalahan dalam membaca dapat mengubah makna yang terkandung dalam Al-Qur’an.
Maka lagi-lagi kita melihat bahwa niat baik saja tidak cukup.

Bahkan dalam beberapa hal, niat baik tanpa ilmu justru dapat membawa seseorang kepada kesalahan yang serius.
Ada ungkapan yang masyhur:

رُبَّ قَارِئٍ لِلْقُرْآنِ وَالْقُرْآنُ يَلْعَنُهُ

“Betapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi Al-Qur’an justru melaknatnya.”

Dalam shalat pun demikian.
Di dalam Al-Fatihah terdapat lafaz إِيَّاكَ (iyyāka) yang harus diperhatikan makhraj dan tasydidnya. Jika dibaca tanpa tasydid, misalnya إِيَاكَ, maka maknanya dapat berubah. Yang semestinya bermakna meminta dan menyembah hanya kepada Allah, justru meminta dan menyembah kepada matahari.

Dan masih banyak contoh lainnya.
Sekali lagi, niat baik saja tidak cukup.

Islam adalah agama yang berdiri di atas ilmu.
Ketika seseorang menyimpulkan sendiri dalam urusan agama tanpa mau belajar, tanpa mau bertanya, tanpa mau merujuk kepada orang-orang yang berilmu, maka ia bisa melakukan dua kesalahan sekaligus.

Pertama: Ia salah karena benar-benar melakukan sesuatu yang salah.
Kedua: Ia salah karena meremehkan ilmu.

Sebab terkadang masalahnya bukan karena seseorang memiliki niat buruk.
Justru niatnya mungkin sangat baik.
Ia ingin beribadah.
Ia ingin mendekat kepada Allah.
Ia ingin mendapatkan pahala.
Ia ingin masuk surga.
Tetapi karena tidak mau belajar, ia menempuh jalan yang salah menuju jalan yang benar

Mungkin kita bisa mengambil sebuah perumpamaan sederhana.
Bayangkan seorang presiden yang memiliki niat baik. Ia ingin memakmurkan rakyat, ingin membangun negeri, ingin mensejahterakan masyarakat.
Niatnya baik.
Tujuannya baik.

Tetapi bagaimana jika ia memilih para menteri dengan cara asal-asalan? Mengambil keputusan tanpa ilmu? Menjalankan kebijakan tanpa perhitungan dan tanpa metode yang tepat?
Apakah tujuan yang baik itu pasti tercapai?
Tentu tidak.

Niat yang baik harus bertemu dengan ilmu.
Niat yang baik harus bertemu dengan cara yang benar.
Niat yang baik harus diwujudkan dengan metode yang tepat.

Apalagi dalam urusan agama.
Kita ingin masuk surga, tetapi kita harus tahu jalan menuju surga.
Kita ingin beribadah, tetapi kita harus tahu tata cara ibadah.
Kita ingin mendekat kepada Allah, tetapi kita harus tahu apa yang Allah cintai dan apa yang Allah benci.

Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Apa niat saya?”
Tetapi tanyakan pula:
Apakah yang saya lakukan ini benar menurut Allah dan Rasul-Nya?
Jangan hanya berkata:
“Saya ikhlas.”
Sebab ikhlas tanpa ilmu bisa membuat seseorang bersungguh-sungguh dalam kesalahan.

Dan inilah yang terkadang tidak kita sadari.
Seseorang bisa sangat ikhlas, tetapi salah.
Seseorang bisa sangat bersemangat, tetapi keliru
Seseorang bisa menangis dalam ibadahnya, tetapi ia tertipu.

Alfaqir teringat dalam suatu kisah ketika Iblis terlihat dalam keadaan sangat lemah dan lesu.
Kemudian ada yang bertanya kepadanya:
Apa yang membuatmu menjadi begitu lemah?
Iblis menjawab:
Aku menjadi lemah ketika melihat seorang yang berilmu itu sedang tidur.
Orang itu merasa heran.
Mengapa engkau justru merasa lemah ketika melihat orang alim sedang tidur? Bukankah ketika dia tidur, dia tidak sedang beribadah?
Iblis menjawab:
Karena ketika orang bodoh beribadah, aku masih bisa merusaknya dengan kebodohannya. Tetapi ketika orang yang berilmu bangun, ia mengetahui kesalahanku, menjelaskan kepada manusia mana yang benar dan mana yang salah, lalu merusak apa yang telah aku bangun.
Maka muncul ungkapan 1 orang ‘alim lebih baik dari pada 1000 ahli ibadah yang bodoh

Dalam Alquran juga dijelaskan:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah: 11)

Terakhir, coba kita bayangkan jika seseorang mengatakan:
“Dalam hidup ini yang penting niatnya benar. Yang penting niatnya baik. Tidak perlu repot-repot belajar atau mengaji.”
Jika kalimat seperti ini dijadikan prinsip dalam beragama,
Maka secara tidak langsung ia telah meruntuhkan kedudukan ilmu yang selama ini diajarkan oleh para ulama yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang bersumber dari Baginda Nabi Muhammad saw.

Imam Manshur Alumni Pondok Pesantren Subulussalam Sriwangi Blitang Oku Timur Sumatera Selatan

Admin Ikhbarneo
Admin Ikhbarneo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *