Pontianak Biennale: Pergelaran Budaya dan Kesenian Kota Pontianak

Foto: AI Gemini/Ilustrasi Sungai Kapuas

Pontianak Biennale merupakan pergelaran budaya dan pameran kesenian kontemporer yang dilaksanakan di kota Pontianak.

Berlangsung kurang lebih satu bulan (25 September – 25 Oktober 2026) dan tersebar di beberapa titik wilayah Pontianak seperti Port 99, SD Negeri 14 Pontianak Selatan dan sejumlah tempat yang memiliki nilai sejarah sekaligus merepresentasikan identitas Pontianak.

Melibatkan banyak artis (pengrajin seni) dari kalangan lokal maupun Internasional untuk mengangkat isu budaya, kesenian dan realitas di zaman terkini dari lanskap Pontianak.

Rangkaian acara dari Ceramah Umum yang dilaksanakan oleh PoBi (Pontianak Biannale) antara lain terdiri dari tiga narasumber beserta tajuk pembahasan, yaitu Ruang Publik yang Aman di Tanjung Raya I Pontianak oleh D.S. Vivi Alhinduan, Sampan dan Ingatan yang Mengalir: Membaca Pontianak Dari Atas Air oleh Regi Hervianto, dan Kote Ini, Suare Kite oleh Komarieh.

Acara dimulai oleh MC (Master of Ceremony) untuk membuka kegiatan dengan melakukan perkenalan diri dan menjelaskan rangkaian kegiatan yang hendak berlangsung.

Kemudian berpindah kepada narasumber, mereka mengulas dan mendiskusikan hasil cetak biru atas karya Zine yang sempat dibuatnya.

Adapun Zine yang merupakan kontribusi seni dari ketiga narasumber mengangkat lanskap dan kebudayaan yang ada di kota Pontianak.

Regi Hervianto biasa disapa Egi sebagai narasumber pertama, membawa peserta untuk dapat hanyut sesaat mengikuti cerita dan sekaligus merefleksikan ada apa dengan aliran sungai kapuas yang jarang disorot oleh kebanyakan orang selama ini.

Egi melihat bahwa sungai kapuas merupakan denyut nadi kehidupan bagi masyarakat kota Pontianak. Sungai kapuas tidak terlepas dengan penentuan nasib, akulturasi budaya, dan merajut kohesi sosial.

Yang antara lain, sungai menjadi medan untuk mengurai kemacetan transportasi darat, sungai menjadi titik perjumpaan bagi banyak budaya dan sungai menjadi sumber rezeki masyarakat pesisir. 

Egi juga mengungkapkan bahwa di zaman yang kian melesat dan modern. Dalam hal pembangunan dan kebijakan yang lahir dari otoritas daerah dan pusat terkadang gagap dalam membaca kebutuhan sosial.

Sungai kapuas memang tidak tertimbun secara fisik, namun esensi fungsinya lambat laun tergerus. Misalnya, kehadiran sampan di sungai sebagai alat transportasi kerap mendapatkan pandangan sinis akibat telah mengganggu keelokan pemandangan dan juga merusak entitas hayati yang ada di sungai.

Padahal sampan mengikuti aliran air dan sama sekali tidak menerjang entitas dalam sungai. Selain itu, pembangunan Water Front (sarana publik) di sepanjang pinggiran sungai memang terlihat mengesankan dan megah bagi masyarakat non-darerah.

Namun, kita juga bertanya dengan jujur, jika dahulu masyarakat dengan bebas dan merdeka untuk menenggerkan sampan di tepian sungai dalam rangka mengais rezeki, akan tetapi sekarang masyarakat tersebut justru haknya kian menyusut beriringan dengan kebijakan dan pembangunan yang melesat.

Oleh karenanya, pemahaman masyarakat modern yang sangat pragmatis dengan mengabaikan kepekaan sosial, jika tidak ada pembangunan seperti infrastruktur fisik maka tidak ada progres.

Pembangunan dan kebijakan yang tidak diiringi dengan pembacaan lapangan yang cermat semakin hari justru akan menimbulkan dilema baru.

Kak Vivi sapaan akrabnya atau Vivi Alhinduan. Narasumber kedua yang membentangkan hasil keresahannya ke dalam Zine, ia menulis tentang dua kampung di kawasan Tanjung Raya: Beting dan Saigon.

Pertama-tama ia memancing dengan satu pernyataan kepada audiens “Beting itu terkenal di dunia dan akhirat!”. Para audiens sontak langsung tertawa.

Begitulah fakta lapanganya, label yang melekat di Pontianak ketika mendengar Beting itu tidak jauh-jauh dari isu prostitusi dan pusat narkoba.

Selain itu, Kak Vivi menyorot kampung Saigon yang semakin hari mulai kehilangan ruang publik karena dipadati dengan pemukiman yang tak tertata dengan optimal.

Melalui diskusinya, penulis sebetulnya mencoba membangun kritik melalui medium zine tersebut.

Stigma negatif tentang sexs yang ada di Beting dan Saigon dengan kontainer terbengkalai yang digunakan untuk menjemur pakaian adalah wujud dari kumpulan kegagalan pemerintah daerah dan pusat untuk peka terhadap kondisi lingkungan dan pengondisian tata ruang. 

Narasumber ketiga adalah Komarieh. Ia menulis tentang sudut pandang anak muda terhadap kota Pontianak.

Melalui tulisannya, kota Pontianak memerlukan partisipasi dan keterlibatan kaum muda untuk menciptakan lanskap kota yang inklusi.

Ia sempat melakukan perjumpaan sekaligus melakukan wawancara banyak anak muda dengan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti dimana aku bisa menemukan ruang untuk bebas berkespresi? Bagaimana kondisi Pontianak kelak jika anak muda haknya masih direnggut? Apakah Pontianak sebatas dikenal sebagai pusat Coffeshop? Dan kegelisan lain yang beruntun muncul.

Kak Komar menyebut, masih banyak persepsi buruk karena menyudutkan anak muda di perkotaan. Mulai dari pergaulan bebas, apatis, suka nongkrong ke warkop dan lain sebagainya.

Kendati begitu, Ia mendapatkan jawaban yang paling jujur karena pemerintah terkesan mengkesampingkan suara kecil kaum muda.

Ia menambahkan, hal yang paling mendasar dan mendesak bagi anak muda Pontianak itu adalah ingin tumbuh dan berkembang dengan cara menghadirkan ruang hijau untuk menyalurkan hobi, mengeksplorasi diri atau bahkan berjejaring.

Oleh karena itu, Kak Komar menyorot tentang pentingnya keterlibatan anak muda dalam pengambilan kebijakan demi pembangunan kota Pontianak yang inklusi dan berkelanjutan.

Dwi Winata Mahasiswa IAIN Pontianak, Ex Ketua Umum LDK As-Salam

Kontributor: Dwiki Winata

Editor: Aris

Admin Ikhbarneo
Admin Ikhbarneo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *