
Dalam sejarah Kalimantan Barat, nama Dr. M. Zeet Hamdy Assovie tercatat bukan hanya sebagai pejabat tinggi negara, melainkan sebagai seorang abdi umat yang menautkan antara kekuasaan dan keikhlasan, antara jabatan dunia dan tanggung jawab ukhrawi. Ia bukan sekadar birokrat, melainkan seorang khadim al-ummah pelayan masyarakat yang menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan setiap langkahnya.
Sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat pada masa Gubernur Cornelis, Pak Zeet dikenal sebagai sosok yang disiplin, berintegritas, dan berani menegakkan aturan. Namun di balik sikap tegasnya, bersemayam pribadi yang lembut dan religius. Ia selalu meyakini bahwa jabatan adalah amanah, bukan kehormatan.
Namun, warisan terbesar Pak Zeet bukan hanya dalam bidang pemerintahan, melainkan dalam perjuangan dakwah dan pendidikan Islam. Sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat, ia menempatkan NU bukan hanya sebagai organisasi sosial-keagamaan, melainkan gerakan peradaban. Ia menegaskan bahwa Islam di Kalimantan Barat harus hadir dengan wajah rahmatan lil ‘alamin penuh kasih, toleran, dan menebar manfaat.
sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat, tantangan dakwah dan sosial begitu besar. Modernisasi, arus globalisasi, dan keterbatasan sumber daya umat menjadi ujian berat bagi organisasi Islam tradisional. Namun, di tangan beliau, NU tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh menjadi kekuatan moral, sosial, dan intelektual yang diakui di seluruh Kalimantan Barat.
Beliau menggerakkan NU bukan sekadar organisasi keagamaan, tetapi gerakan peradaban. Dakwah NU dihidupkan dengan pendekatan yang lembut, toleran, dan edukatif. Majelis taklim, pelatihan kader, dan kegiatan sosial diperkuat di berbagai kabupaten/kota. Prinsip dakwah yang dipegang adalah al-muhafazhah ‘ala al-qadim as-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah menjaga tradisi lama yang baik, sambil mengambil hal baru yang lebih baik.
tentunya menggerakkan NU di Kalimantan Barat, memiliki tantangan dakwah tersendiri, berbagai ragam etnis dan budaya yang ada mewarnai tanah Borneo ini, tetapi secara kultural ajaran NU sudah mengakar kental di ajaran masyarakat Melayu di Kalimantan Barat, itu dikarenakan para ulama masa lampau telah dahulu mengajarkan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah di pemukiman Kalimantan Barat.
Karena wajah Islam di tanah Borneo memiliki kultur budaya yang beragam, tentunya NU juga harus menjadi wadah keislaman yang menaungi dan mewarnai amalan-amalan NU pada masyarakat Kalimantan Barat. Pak Zeet membuktikan bahwa latar belakang suku apapun, pendidikan dan lingkungan sekalipun, beliau bukan dari kalangan santri atau pesantren, beliau tetap bisa memberikan dampak manfaat yang luar biasa pada umat Islam khususnya Nahdliyin di Kalimantan Barat.
Dakwah baginya bukan hanya ceramah di mimbar, tetapi juga karya nyata yang mencerahkan kehidupan umat. Dari sanalah lahir cita-cita besarnya: mendirikan Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat (UNU Kalbar). Ia meyakini bahwa ilmu dan iman adalah dua sayap yang harus terbang bersama. Maka ia menggerakkan para kiai, dosen, dan tokoh muda NU untuk membangun lembaga pendidikan tinggi yang melahirkan generasi berilmu dan berakhlak.
Pendirian UNU Kalbar bukan sekadar proyek pendidikan, melainkan bentuk nyata dari jihad intelektual. Di balik izin operasional yang panjang dan perjuangan administratif yang melelahkan, Zeet terus menguatkan semangat pengurus dan masyarakat. Ia sering berkata kepada rekan-rekannya: “Membangun universitas Islam adalah sedekah jariyah yang pahalanya tidak akan putus. Selama ilmu diajarkan, selama itu pula kita hidup dalam doa.”
Kini, universitas itu berdiri tegak, menjadi cahaya ilmu di bumi Kalimantan Barat warisan nyata dari seorang tokoh yang memandang ilmu sebagai ladang ibadah dan amal shalih.
Dalam kesehariannya, Pak Zeet dikenal sederhana. Ia jarang menonjolkan diri meski memiliki jabatan tinggi. Dalam setiap forum NU, ia selalu mengajak agar ulama dan umara bersatu demi kemaslahatan umat. Ia sering mengingatkan: “Ulama tanpa dukungan umara akan lemah, dan umara tanpa bimbingan ulama akan buta.”
Pernyataan itu menjadi prinsip yang ia pegang sampai akhir hayatnya memadukan kekuasaan dan keteladanan, kebijakan dan kasih sayang, dunia dan akhirat. Dan tidak mudah bisa menjalankan dengan beriringan tanpa keduanya bersatu. Prinsip ini sangat bermakna dan sesuai dengan hadits Nabi saw, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan disebutkan oleh Imam As Suyuthi dalam Jami’ As Saghiri :
عن ابن عباس، وقد ذكره السيوطي في الجامع الصغير بهذا اللفظ: صنفان من الناس إذا صلحا صلح الناس وإذا فسدا فسد الناس: العلماء والأمراء
Artinya : “Dua kelompok manusia apabila keduanya baik maka baiklah manusia, dan apabila keduanya rusak, maka rusaklah manusia : Ulama dan Umara”
Menjelang akhir hayat, Pak Zeet diuji dengan penyakit kanker otak stadium lanjut. Tapi bahkan di tengah penderitaan itu, lisannya tetap dipenuhi dzikir, dan hatinya masih terpaut pada tanggung jawab dakwah. Ia wafat pada 5 Mei 2024, meninggalkan duka mendalam sekaligus kebanggaan bagi umat Islam Kalimantan Barat.
Kehidupannya adalah pelajaran bagi generasi muda Islam: bahwa kekuasaan tanpa keikhlasan akan fana, namun pengabdian yang disertai iman akan kekal dalam sejarah. Ia telah mencontohkan bagaimana menjadi pemimpin yang melayani, bukan dilayani; bagaimana menjadi pejabat yang mendekat kepada Allah, bukan menjauh karena dunia.
M. Zeet Hamdy Assovie telah tiada, tetapi cahaya perjuangannya tetap menyala di ruang-ruang kelas UNU Kalbar, di hati para santri, dan di dada para murid yang menuntut ilmu sambil meneladani semangatnya. Dari beliau, kita belajar bahwa Islam bukan hanya untuk diucapkan, tetapi untuk diperjuangkan dengan ilmu, amal, dan kasih.
Semangat dan kebersamaannya dalam memperjuangkan NU di Kalimantan Barat harus tetap dilanjutkan pada generasi selanjutnya, agar Nahdlatul Ulama di Kalimantan Barat menjadi tonggak peradaban keislaman yang moderat dan toleransi terhadap perbedaan dan keberagaman.







