
Menjelang memasuki bulan Zulhijjah, umat Islam khususnya di Indonesia akan menyambut datangnya hari raya Idul Adha. Tentunya itu adalah bentuk kebahagiaan ketika memasuki hari raya tersebut. Secara umum walaupun sama dengan hari raya Idul Fitri, tetapi ada sebagian daerah tertentu di Indonesia ada yang merayakan Idul Adha lebih meriah dari pada Idul Fitri.
Seperti tradisi Kaul dan Abda’u di Negeri Tulehu, Maluku Tengah, tradisi ini dilaksanakan setelah warga Maluku menunaikan sholat Idul Adha, sebelum menyembelih, tiga kambing yang akan disembelih, pemuka agama akan menggendong kambing sembelihan itu dengan menggunakan kain, layaknya menggendong anak kecil, kambing-kambing ini di arak mengelili desa sambil diiringi alunan takbir dan shalawat menuju masjid.
Ada juga tradisi Maccera’ Bola di daerah Pangkep Sulawesi Selatan, tradisi ini dimulai dengan membersihkan rumah adat setelah itu membaca zikir dan doa bersama akhirnya ditutup dengan pemotongan hewan sembelih yang dimana hewan itu akan dibagi-bagikan kepada orang yang berhak sebagai bentuk rasa kebersamaan dan syukur kepada Allah swt.
Salah satu anjuran yang dilaksanakan oleh umat Islam di bulan Zulhijjah adalah melaksanakan ibadah Qurban yang tentunya memiliki hikmah atas anjuran tersebut. Lebih jauh lagi, mari kita pahami, apa itu ibadah Qurban?.
Kata Qurban (قربان) diambil dari kata Qaruba (قرب)yang berarti “dekat”. Secara bahasa Qurban adalah sesuatu yang didekatkan atau dipersembahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
القربان من قرب، وهو ما يُقرب إلى الله تعالى
Artinya : “Qurban berasal dari kata “Qaruba” (dekat), yaitu sesuatu yang didekatkan kepada Allah swt,” (Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab, [Beirut: Daar Sadir, 1998] hal. 120).
Sehingga dapat dipahami, bahwa ibadah Qurban merupakan ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah swt, dengan mengalirkan darah binatang yang disembelih, semua itu juga termasuk adalah bentuk persembahan totalitas perserahan diri kepada Allah swt.
Di dalam Al-Quran, terdapat kisah perintah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail as, yang menjadi asal usul ibadah qurban tersebut disyariatkannya.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ. فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ. وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ. اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ. وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ
Artinya : “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar. Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah). Kami memanggil dia, “Wahai Ibrahim, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.” (QS. As-Shaffat : 102-107)
Tentunya syariat yang telah ditentukan memiliki hikmah untuk menjadi renungan di dalam kehidupan umat Islam pada saat ini. Secara jelas para ulama Tafsir membahas dan membagi makna yang terkandung di setiap ayat-ayat tersebut,
Pertama, para ulama Tafsir menyatakan bahwa mimpi yang didapati oleh nabi Ibrahim as, merupakan bentuk perintah yang harus dilaksanakan dan dikerjakan, sebagai sesosok ayah yang merasakan kedekatan dengan anak, perintah itu dirasa sangat mustahil untuk dilaksanakan, tentunya Nabi Ibrahim tidak tega untuk membunuh dan mengorbankan anaknya yang telah ia besarkan selama ini. Ketegasan hati Nabi Ibrahim dengan keyakinan bahwa ini adalah perintah yang terbaik untuk dilaksanakan oleh seorang nabi. Imam Qurthubi menambahkan di dalam tafsirnya bahwa mimpi perintah penyembelihan itu merupakan perintah dari Allah, dan sudah diketahui oleh Nabi Ibrahim bahwa itu wahyu dari Allah untuk dirinya, sehingga dengan penuh keyakinan Nabi Ibrahim menjalankan perintah tersebut bersama putranya Nabi Ismail.
وَالرُّؤيا لِلنَّبِيِّ وَحْيٌ، فَلَمَّا رَآهَا إِبْرَاهِيمُ عَلِمَ أَنَّهَا أَمْرٌ مِنَ اللَّهِ فِي ذَبْحِ ابْنِهِ، وَالْمَقْصُودُ بِهِ إِسْمَاعِيلُ عَلَى الصَّحِيحِ
Artinya : “Mimpi bagi seorang nabi adalah wahyu; ketika Ibrahim melihatnya, ia tahu itu perintah Allah untuk menyembelih putranya—yang dimaksud adalah Ismail menurut pendapat sahih.” (Al-Qurṭubî, Al-Jāmiʿ li-Aḥkām al-Qurʾān, Juz 15, [Kairo, Dār al-Kutub al-Miṣriyyah 1964], cet. 2, Hal. 109)
Kedua, selanjutnya setelah memantapkan hati untuk melaksanakan perintah Allah swt, orang tua dan anak telah berada posisi puncak kepasrahan. Apapun yang akan terjadi semua itu telah diserahkan kepada Allah swt, adalah bentuk derajat iman yang tinggi. Menurut Quraish Shihab ketaatan bersama (orang tua dan anak) demi mendapatkan cinta Ilahi. Tidak ada kepentingan masing-masing diantara orang tua dan anak, sehingga semua itu dikembalikan kepada keinginan sang-pencipta. Beliau menambahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah sampai pada puncak bahwa kasih kepada Allah harus di atas kasih siapapun.
“Maka tanpa ragu dan menunda-nunda tatkala keduanya telah berserah diri secara penuh dan tulus kepada Allah swt, dan ia yakni Ibrahim as, membaringkan anak-nya atas pelipis-nya, sebagaimana binatang yang akan disembelih, maka ketika itu terbuktilah kesabaran keduanya, pisau yang demikian tajam – atas kuasa kami – tidak melukai sang anak sedikit pun.” (Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran, [Jakarta : Lentera Hati, 2005], Volume 12, Hal. 64)
Ketiga, Meneguhkan keimanan dalam keadaan ujian, merupakan cobaan yang terbesar yang dihadapi oleh siapapun. Ketika dalam terlilit hutang ditimpa lagi dengan kebutuhan membayar biaya rumah sakit atas penderitaan penyakit yang di alami oleh anak atau orang tua, itu merupakan keadaan yang sangat menggoyahkan keimanan dan tidak semua dari orang yang sanggup merasakan keadaan seperti contoh di atas.
Setelah sampai pada puncak ujian yang di alami oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dan tentunya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sudah akan melakukan atas perintah dari Allah swt, lantas, Allah swt, menangguhkan ujian tersebut, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sudah sampai pada puncak perintah.
Seperti kisah yang penuh histeris ini, yang sangat dramatis yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail as. Ketika keimanan dan keyakinan sudah memuncak dalam jiwa, ia mampu menjatuhkan segala kebutuhan duniawi bahkan yang bersifat rasionalitas. Meski rasio tidak menerima akan tindakan ayah untuk menyembelih anaknya, namun keimanan lebih dikedepankan dari semuanya.
Setelah semua kisah itu selesai, sangat terlihat kesabaran dan ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail. Oleh karenanya Allah tidak menginginkan penyembelihan itu terjadi, bahkan melarang dan mengganti qurbannya dengan seekor kambing.
Menurut Syekh Jalaluddin Al-Mahalli dalam kitab Tafsir Al-Quran al-Karim, kambing yang digunakan sebagai ganti dari penyembelihan tersebut merupakan sembelihan yang agung (dzibhul azhim), karena sebenarnya, kambing itu merupakan qurban Habil yang diangkat ke langit, saat Allah memerintahkannya untuk melaksanakan qurban, lalu digembalakan di Surga untuk waktu yang sangat lama.
وفديناه أي المأمور بذبحه، وهو إسماعيل أو إسحاق قولان «بذبح» بكبش «عظيم» من الجنة وهو الذي قربه هابيل جاء به جبريل عليه السلام فذبحه السيد إبراهيم مكبرا
Artinya : “Dan kami menebusnya – yakni mengganti Ismail, menurut pendapat mayoritas, “dengan sembelihan yang besar” – yaitu seekor kambing jantan yang besar yang diturunkan dari syurga, dan menurut sebagian pendapat, pernah diqurbankan oleh Habil, kemudian disimpan di syurga hingga saat ini. (Jalalaluddin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain, [Damaskus, Daar Ibnu Katsir, 2000 M] Hal. 450)
Kesimpulannya, nilai ketaqwaan seseorang hamba tidak akan berjalan dengan mulus, akan penuh rintangan dan ujian yang pastinya menentukan kemampuan seorang hamba dalam beriman kepada Allah swt, layaknya Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail as, tentunya sebagai hamba yang menjadi tauladan dan syariatnya menjadi tuntunan buat umat islam.







