
Foto: Detik.comHadis sumber hukum kedua dalam tradisi hukum islam. Fungsi hadis ini, diantaranya sebagai penjelas atas al-Qur’an disamping sebagai hukum itu sendiri manakala tak ada nash al-Qur’an.
Bagi kebanyakan orang yang tak mempelajari “kritik hadis” sudah tentu menganggap semua hadis memiliki otoritas ketentuan yang mutlaq harus diikuti. Sehingga muncul istilah tak mengikuti hadis nabi dicap “tak nyunah”.
Padahal perjalanannya, periodesasi hadis itu memiliki bagiannya. Ada kelompok ahli hadis Madinah atau Madrasatul Madinah. Pelopor utama riwayat hadis Madinah ini adalah. Abu Hurairah ra, Saidatina Aisyah, ra. Abdullah bin Umar, Zabier bin Abdullah, dan Abu Said al Hudri.
Dari lima orang pelopor utama riwayat hadis di Madinah ini kemudian ditransmisikan, diwurukakeun jika dalam dialek Jawa Serang kepada para tabi’in diantaranya; Said bin musayab, Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar Asyidiq, Salim bin Abdullah bin Umar, Ali Bin Husen bin Ali, Abu Salamah bin Abdurrahman, Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah, Khorijah bin Zaed bin Stabit, Urwah bin Zabier bin Awwam, Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits bin Hisyam dan terakhir Sulaeiman bin Yasar.
Sepuluh orang ini merupakan generasi kedua perawi hadis Madinah dan peletak dasar hukum fiqh yang kemudian melahirkan perawi hadis mashur Imam Malik, sekaligus pendiri Mazhab fiqh Maliki.
Adapun ahli Hadis Mekah atau Madrasatul Mekah diantaranya; Muad bin Jabal, dan Abdullah bin Abbas. Dari Abdullah bin Abbas di di “Wurukakeun” pada tabiin diantaranya; Atho bin Abi Rubbah, Mujahid bin Walid, Ikrimah budaknya Ibnu Abbas, Umar bin Dinar, Ibnu Abi Malikah atau Abdullah bin Ubaidillah dari Abdullah bin Ubaidillah murid-muridnya yaitu; Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Jariz, Sofwan bin Utbah dan Imam Muhammad bin Idris Asyafi’i (pendiri fiqhMazhab Syafi’i), Abdullah bin Zubaer, dan Said bin Mansur.
Itulah perawi utama hadis Haramain atau dua kota Madinah- Mekah. Dan riwayat dari dua kota itu dianggap riwayat hadis Shahih secara periwayatan karena dekatnya kepada sumber utama yaitu baginda Nabi Muhammad saw.
Luar dari riwayat Mekah-Madinah menurut dua Imam besar Imam Malik dan Imam Syafi’i lemah secara periwayatan.
قَالَ مَالِكٌ: إِذَا جَاوَزَ الحَدِيثُ الحَرَمَيْنِ ضَعُفَ سَمَاعُهُ وَنَفْسُ. المَعْنَى عِنْدَ الإِمَامِ الشَّافِعِيِّ
Sementara diluar Haromain Mekah-Madinah ada perawi2 hadis dari Yaman, Basrah, Kufah, Syam, dan Mesir. Tokoh perawi utama Yaman adalah Utusan Nabi Muadz bin Jabal yang kemudian dari Yaman kembali ke Madinah. Selain Muadz kemudian diutus Musa Asyari’i .
Tokoh utama perawi Basrah Utbah bin Ghazwan, Abdullah bin Abdullah bin Muaqil, Anas Bin Malik, Hasan al Bisri, Muhammad bin Syirin, Qotadah bin diamah. Menurut salah satu riwayat Imam Turmidy termasuk salah satu kelompok tabi’in dari Basrah, Kufah sekaligus Yaman, Namun yang Mashur merupakan bagian kelompok Basrah.
Selanjutnya perawi Basrah kelompok tabi’in Ayub Sahtiyani, Yunus bin Ubaid, Abdullah bin Aun, Hamad bin Salamah, Hamad bin zaed dan terakhir Yahya bin Said al Qathan.
Sedangkan Tokoh utama Kufah diantaranya Sa’ad bin Abi Waqas Ali Bin Abi Thalib ra, Hubab bin al Rat dan Abu Musa Asyari. Sementara tokoh paling utama atau pemimpin perawi di Kufah adalah Abdullah bin Mas’ud. Dari jalur Abdullah bin Masud ini melahirkan murid2 perawi hadis seperti Ibrahim bin Yazid, Said bin Jabier, Amir Sya’i alqomah bin Qeis , Aswad bin Yazid dan Sulaeman al- A’masy. Dan tabiin at- tabiin dari Kufah diantaranya Sufyan bin Said Asaury, Syarik bin Abdullah, Waki bi Jarah, Abdullah bin Musa, dan Abu Nuem.
Dari kelompok Syam perawi utamanya yang diutus Umar bin Khatab, kemudian Muad bin Jabal wilayah Falastien disamping Ke Yaman. Abu Darda, dan Ubadah bin Shamat.
Terakhir kelompok Perawi Mesir . Diutus Sahabat Uqbah bin Amar, Amer Bin Ash dan anaknya Abdullah, Sementara dari kelompok tabiin, ada Bakir bin Abdullah, dan Yazid bin Abi Habib, para penerusnya ada Hayawah bin Syarih, Laes bin saad dan Amar bin Harist.
Dari para perawi hadis itulah kemudian oleh generasi berikutnya dikodifikasi dan dijadikan kumpulan buku hadis seperti kitab Muatho karya imam Malik, al Um karya Imam Syafi’i, sehingga terus di teliti oleh para penggiat hadis dan dibukukan pada era khalifah Abasiyah kini tersaji dengan istilah “kutub sitah” yaitu Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah itulah induk kitab atau buku hadis.
(Di telaah dari kitab Juhudul Muhadisiina fi Naqdi matnil hadisi anabawi asyarifi. Halaman 19-30.)
Akhmad Basuni
Penggiat NU provinsi Banten
Wakil Ketua PW Gp. ANSOR Banten.







