
PONTIANAK — Tak kenal maka tak sayang. Begitulah agaknya pepatah orang Melayu yang paling cocok untuk menggambarkan pertemuan mahasiswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) IAIN Pontianak dengan para santri Pondok Pesantren Tahfizhul Quran Syifaul Qulub Pontianak, Kamis (10/9/2026).
Sebanyak 10 mahasiswa PKL Prodi IAT IAIN Pontianak mengikuti pertemuan bersama para santri sebagai bagian dari langkah awal membangun komunikasi, keakraban, sekaligus mengenal kehidupan pesantren yang akan menjadi bagian dari pengalaman mereka selama menjalani PKL.
Pertemuan berlangsung dalam suasana santai dan penuh keakraban. Mahasiswa dan santri saling memperkenalkan diri, berbincang, serta membuka ruang komunikasi agar kegiatan PKL ke depan dapat berjalan lebih nyaman dan terarah.
Maklumlah, awal berjumpa biasanya memang begitu. Ada yang langsung banyak cerita, ada yang masih malu-malu. Santri pun macam-macam perangainya. Kalau disuruh membaca Al-Qur’an, lancar betul. Tapi kalau ditanya, “Siapa namanya?” kadang senyum dulu, baru menjawab.

Bukan berarti tak tahu nama sendiri, mungkin sedang menunggu ilham.
Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi acara formalitas untuk saling mengetahui nama. Lebih daripada itu, perkenalan menjadi pintu pertama untuk membangun hubungan yang baik antara mahasiswa PKL dengan para santri.
Para mahasiswa datang membawa bekal akademik dari kampus, sementara pesantren mempunyai suasana pendidikan yang khas: ada jadwal ngaji, hafalan, adab, kedisiplinan, kebersamaan, dan kehidupan santri yang berjalan hampir sepanjang hari.
Di sinilah mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk melihat bahwa belajar Al-Qur’an bukan hanya soal teori di ruang kuliah. Ada praktik kehidupan yang nyata di pesantren, bagaimana ilmu dijaga dengan adab, bagaimana waktu diatur, dan bagaimana seorang santri belajar hidup bersama.
Kalau dalam bahasa kitab fiqh, perkenalan itu macam mukaddimah. Belum masuk pembahasan utama, tapi jangan dianggap tak penting. Sebab kalau mukaddimah-nya sudah baik, insyaallah pembahasannya pun lebih mudah.
Belajar Menyesuaikan Diri dengan Kehidupan Pesantren
Kehadiran mahasiswa PKL di lingkungan pesantren juga menuntut kemampuan untuk beradaptasi. Sebab pesantren mempunyai budaya dan aturan tersendiri yang harus dihormati.
Pepatah Melayu berkata, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Artinya, siapa pun yang datang ke suatu tempat hendaknya menghormati adat, kebiasaan, dan aturan yang berlaku.
Begitu pula mahasiswa PKL. Mereka tidak hanya melaksanakan kewajiban akademik, tetapi juga belajar memahami kehidupan pesantren dari dekat.
Sementara bagi para santri, kehadiran mahasiswa IAT IAIN Pontianak dapat menjadi pengalaman tersendiri. Mereka bisa mengenal dunia kampus, berdialog dengan mahasiswa, dan memperoleh wawasan baru tentang studi Al-Qur’an dan Tafsir.
Barangkali dari pertemuan sederhana inilah nanti lahir banyak cerita. Ada yang awalnya cuma saling salam, kemudian menjadi akrab. Ada yang awalnya cuma bertanya nama, akhirnya bertukar pengalaman. Namanya juga pesantren, kadang ilmu datang dari kitab, kadang datang dari obrolan selepas ngaji.
Awal yang Baik untuk Perjalanan PKL
Pertemuan mahasiswa PKL Prodi IAT IAIN Pontianak dengan para santri Pondok Pesantren Tahfizhul Quran Syifaul Qulub menjadi awal dari perjalanan kegiatan PKL yang diharapkan berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi semua pihak.
Sepuluh mahasiswa yang hadir tidak hanya membawa tugas dari kampus, tetapi juga membawa kesempatan untuk belajar dari lingkungan pesantren. Begitu pula para santri, mereka mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat dunia akademik dan mahasiswa.
Akhirnya, pertemuan itu mengajarkan satu perkara sederhana: sebelum bekerja bersama, eloklah berkenalan; sebelum banyak bicara, eloklah mendengar; dan sebelum masuk terlalu jauh, eloklah menjaga adab.
Sebab dalam kehidupan santri, ilmu tanpa adab kurang lengkap. Dan dalam dunia pergaulan, kenal dulu barulah boleh banyak cerita.
Yang penting, jangan sampai baru sehari berjumpa sudah langsung memanggil, “Bang, traktir makan!” Itu bukan lagi mukaddimah, itu sudah masuk bab lain.







