
Ribuan masyarakat berkumpul di halaman Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Sabtu, 29 Agustus 2026 pagi. Mereka datang bukan untuk menghadiri konser, bukan pula untuk melihat pejabat berpidato. Mereka datang membawa satu harapan yang sama, memohon kepada Allah agar hujan segera turun.
Salat Istisqa digelar pukul 07.00 WIB sebagai ikhtiar bersama di tengah kemarau panjang dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti Kota Pontianak dan sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
Pemandangan pagi itu terasa begitu menggetarkan. Ribuan jamaah memenuhi halaman masjid dan lapangan terbuka. Sebagian besar mengenakan pakaian sederhana, sesuai tuntunan pelaksanaan Salat Istisqa. Banyak pula yang mengenakan masker untuk melindungi diri dari asap yang semakin pekat.
Di bawah langit yang kelabu, manusia menengadahkan tangan. Bukan meminta jabatan. Bukan meminta kekayaan. Pagi itu, yang diminta sangat sederhana, hujan. Hujan yang bisa membasahi tanah, memadamkan bara, membersihkan udara, dan mengembalikan warna langit Pontianak.
Salat Istisqa dipimpin Imam Tetap Masjid Raya Mujahidin, Ust. Ahmad Sima Hanip Rahman, Lc., M.Ag. Sementara khotbah disampaikan KH. Ahmad Zamroni Hasan, S.Ag., MA, Ketua MUI Kabupaten Kubu Raya. Ust. Sumardi Al-Hafiz bertindak sebagai pembimbing.
Salat ini menjadi ikhtiar spiritual masyarakat setelah berbagai upaya manusia dilakukan untuk menghadapi karhutla.
TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, relawan, dan masyarakat terus berjibaku melakukan pemadaman, patroli, serta pendinginan bara. Operasi Modifikasi Cuaca juga dilakukan untuk memancing turunnya hujan.
Namun hingga kini, api belum sepenuhnya menyerah. Data per 28 Agustus 2026 menunjukkan hotspot di Kalimantan Barat mencapai sekitar 3.384 titik, meningkat tajam dari 2.825 titik pada 27 Agustus dan 2.610 titik pada 26 Agustus. Indikasi luas lahan terbakar mencapai sekitar 38 ribu hektare.
Dampaknya bukan hanya hutan dan lahan yang terbakar. Manusia ikut menderita. Hingga 22 Agustus 2026, sekitar 165.727 kasus ISPA tercatat di Bumi Khatulistiwa. Pontianak menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi dan menghasilkan 9 alert mingguan dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Ketapang mencatat 6 alert, sementara Sintang dan Mempawah masing-masing 5 alert.
Di Kubu Raya, sepanjang Agustus 2026 tercatat 5.321 kasus ISPA, atau rata-rata sekitar 204 kasus setiap hari. Kabut asap membuat jarak pandang di Pontianak hanya sekitar 0,8–1 kilometer. Karena itu, Salat Istisqa hari ini terasa lebih dari sekadar sebuah ibadah. Ia menjadi gambaran kegelisahan sebuah masyarakat.
MUI Kalbar bersama DMI, Kanwil Kemenag, dan IAIN Pontianak mengimbau umat Islam melaksanakan Salat Istisqa secara serentak di seluruh kabupaten/kota, termasuk Ketapang, pada waktu yang sama.
Di halaman Masjid Raya Mujahidin, ribuan manusia akhirnya bersujud bersama. Langit masih kelabu. Asap masih menggantung. Tetapi doa terus dinaikkan. Semoga hujan segera turun. Semoga api padam. Semoga udara kembali bersih. Semoga anak-anak kembali bisa bermain di luar rumah.
Semoga Kalbar tidak perlu lagi menunggu sampai langit benar-benar gelap untuk menyadari betapa mahalnya harga sebutir hujan.
“Bang, derita warga sangat luar biasa. Bukan hanya asap, mandi pun sekarang dengan ledeng air asin. Kadang malu kalau ada tamu dari luar, mereka harus mandi dengan air asin.”
“Benar, wak. Asap kali ini lebih pekat dan berbahaya. Kita tidak tahu sampai kapan akan berakhir. Hujan satu-satunya solusi untuk menghilangkan asap. Terima kasih semua warga yang sudah salat Istisqa hari ini.”
Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalbar)







