
Foto : Istimewa
#1 CATATAN SYIFAUL QULUB
Saya memulai catatan ini dengan menampilkan foto diatas, sebagai kenangan yang tidak akan dilupakan bahkan kepada siapa yang sudah tidak berada di Pondok lagi. Sejarah merupakan perjalanan kehidupan seorang yang menjadi pelajaran bagi generasi setelahnya, dan menjadi cerita di warung kopi ketika menceritakan hal-hal yang lucu, sedih, bahkan mungkin kenakalan yang dulu dilakukan ketika masih nyantri.
Banyak sisi yang akan saya tumpahkan didalam catatan ini sebagai pesan tersirat untuk generasi yang akan datang, dan sebuah kenangan berarti yang saya dapatkan ketika berada di rumah sepetak yang dinamakan APTQ.
Pada umumnya Pondok Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam, yang menitik beratkan kemandirian dan menetap di sebuah tempat yang disebut asrama, bagi saya Pondok Pesantren adalah asrama yang besar, megah, berlantai-lantai, dan tentunya dengan tata tertib yang sangat ketat.
Karena, sebelum saya menginjakkan kaki dan menetap di APTQ, saya juga mengenyam pendidikan Pondok Pesantren di Pondok Pesantren Manba’usshafa Kp. Arab Pontianak Timur. Bayangan saya adalah pesantren tempat belajar yang telah memiliki fasilitas dan tempat yang megah, tetapi semua itu sirna ketika saya memantapkan hati untuk menempuh perjalanan mencari ilmu di APTQ.
Dengan sebatas rumah biasa, lantai dua yang separuh bahkan arsitektur rumah atas bertujuan digunakan untuk menyimpan barang (gudang) karena tidak besar, adalah tempat para santri memulai untuk menghafal Al-Quran. Rumah ini disebut APTQ (Asrama Pendidikan Tahfizhul Quran) yang dirintis Ustadz. M. Moechlas Safi bersama istri beliau Ibu Humairah.
Tentunya, bayangan saya sebagai santri awam mengenal pendidikan pesantren sebuah pendidikan yang belum pernah ada di kalangan keluarga saya. Adalah sebuah tantangan sendiri, sedangkan selama saya mondok, tujuan dan masa depan saya tidak pernah dipikirkan oleh saya bahkan orang tua saya.
APTQ memiliki kisah dan sejarah yang banyak, khususnya bagi para alumni yang sempat menjadikan rumah ini sebagai rumah canda tawa. Sebagai rintisan awal dalam membangun pesantren, Ustadz Syafi (sebutan hari-hari) adalah guru sekaligus orang tua kami selama berada di APTQ. Kultur dan budaya Jawa yang melekat didalam kepribadian beliau, membuat para santri merasa dekat dan mendapatkan arahan secara dasar dalam belajar di pondok pesantren, menanamkan ruh pesantren seperti masak sendiri, mengatur jam mengaji sendiri, fasilitas dengan serba sederhana, dan mengajarkan tata krama langsung dengan tauladan sehari-hari.
Kegigihan dan tekad yang kuat telah beliau tanamkan ketika mencari santri dan mendidik santri agar menjadi manusia yang berarti adalah ciri khas beliau yang sampai hari ini dirasakan bagi santri-santri beliau yang sudah belajar di luar sana. Menjadi orang tua kami ketika mondok juga adalah pengalaman yang tidak pernah dilupakan, bahkan dalam hal hidup. Sebagai guru juga tidak bosan-bosannya membimbing, mengarahkan, dan menasehati ketika para santri dalam keadaan lupa dan salah.







