Islam Sebagai Cahaya Perlindungan bagi Dunia

foto: istimewa

Sebelum munculnya negara-negara modern seperti yang kita kenal hari ini, dulunya dunia dikuasai oleh kekaisaran-kekaisaran besar. Di antaranya, ada Kekaisaran Romawi dan Persia yang mendominasi panggung sejarah. Namun, kekaisaran ini hanya mementingkan kerajaan nya sendiri tanpa diiringi oleh moral yang luhur. penindasan serta kekejaman terhadap penduduk yang tak berdaya menjadi bagian tak terpisahkan dari ambisi kekuasaan.

Di bawah kekuasaan kerajaan baik romawi maupun persia, penduduk yang ditaklukkan sering kali dipaksa memeluk agama penguasanya. Penolakan berarti ancaman bagi nyawa mereka, dengan pembantaian massal, perbudakan, pengusiran, dan penistaan hak asasi manusia menjadi pemandangan sehari-hari. Budak diperlakukan seperti barang dagangan, tanpa nilai kemanusiaan itulah sejarah kelam manusia sebelum hadirnya islam.

Lantas Islam datang membawa risalah kebenaran, serta peradaban yang luhur, ia membawa gelombang perubahan besar yang melampaui dari sekadar penaklukan, menuju akhlak dan menegakkan prinsip keadilan dan kemanusiaan. Setiap wilayah yang berada di bawah naungan Islam dilindungi dari paksaan beragama. Dalam hal ini Islam dengan tegas melarang pemaksaan keyakinan,

لا اكراه في الدين

“Tidak ada paksaan dalam beragama” (QS. Al-Baqarah: 256).

Selain menjamin kebebasan dalam beragama, pasukan muslim juga tidak pernah melakukan pembantaian terhadap warga sipil, seperti yang dilakukan oleh kerajaan non muslim ketika mereka menang dalam berperang.

Perlakuan terhadap budak juga menjadi salah satu contoh nyata dari keadilan Islam. Pada saat seluruh kerajaan semena2 kepada para budaknya, hanya kerajaan Islamlah yang memanusiakan seorang budak dan sangat mendorong pembebasan mereka sebagai salah satu bentuk ibadah. Budak bukan lagi sekadar komoditas; mereka memiliki hak, dan banyak di antaranya diberi kesempatan untuk merdeka dan memiliki kehidupan yang bermartabat. Inilah yang jarang disampaikan oleh sejarawan mereka mendeskritkan perbudakan terhadap Islam, padahal malah sebaliknya.

Tak heran, di berbagai wilayah, masyarakat justru menyambut kehadiran pasukan Islam. Bukan karena mereka memaksakan diri, tetapi karena mereka menawarkan kebebasan dari kekejaman penguasa sebelumnya.

Terakhir, ketika mereka menyadari bahwa umat Islam terlalu kuat di medan perang, pihak-pihak non-Muslim mulai mengubah strategi mereka. Mereka tidak lagi mengandalkan kekuatan militer, melainkan politik dan propaganda. Mereka mengusung jargon kebebasan dan keadilan, padahal keadilan sudah dirasakan oleh seluruh umat manusia, namun mereka menyusupkan isu2 miring tentang kekhalifahan seolah tidak ada kebebasan dalam kehidupan sehari-hari. Sejarah menunjukkan, kebencian terhadap Islam tiba-tiba muncul ke permukaan tanpa ada alasan yang jelas.

Saat ini, tuduhan terhadap Islam sebagai agama radikal dan penuh kekerasan hanyalah kebohongan yang dipropagandakan oleh mereka yang tidak mau islam menjadi mercusuar dunia.

Sejak jatuhnya kekhalifahan Utsmaniyah di Turki dan menguatnya hegemoni Barat, kini terbukti dunia semakin sering menyaksikan ketidakadilan yang menimpa umat Islam di Palestina, di mana kejahatan kemanusiaan terjadi secara terang-terangan, banyak negara besar memilih bungkam sebab takut berurusan dengan negara-negara adidaya. Mereka berbicara tentang keadilan, tetapi sejatinya memusuhi Islam dan umatnya. Memasang standar ganda kepada para selain kelompoknya.

Tanpa kehadiran ajaran Islam yang menegakkan keadilan bagi semua, dunia akan tetap menjadi arena di mana yang kuat menindas yang lemah, dan suara kebenaran akan tenggelam di bawah kekuasaan tirani PBB. Mirisnya umat Islam masih banyak yang apatis dan tidak perduli terhadap nilai-nilai persatuan dan persaudaraan Kepada sesamanya. padahal Rasulullah bersabda

المسلم أخوالمسلم

“Muslim satu dengan yang lainnya adalah saudara”.


Inilah pentingnya kesadaran bersama dan sebagai pelajaran bagi umat manusia. Saat ini kecerdasan dalam politik juga menjadi salah satu penentu menuju kebangkitan Islam.
Duka di Palestina duka kita bersama…

 

Imam Manshur Alumni Pondok Pesantren Subulussalam Sriwangi Blitang Oku Timur Sumatera Selatan

Admin Ikhbarneo
Admin Ikhbarneo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *