Dari Kramat Cape Town sampai Cungkup Wali Songo, Kuburan Punya Cerita (2)

Lanjutan artikel “Membedah Model Kuburan Muslim di Seluruh Dunia.” Kalau Seri 1 membuat kita sadar, kuburan Muslim bisa sesederhana gundukan tanah sampai semegah simbol kekuasaan. Pada seri ini membawa kita ke tempat lebih menarik. Kuburan bukan cuma tempat orang meninggal, tetapi juga tempat sejarah tetap hidup.

Di Afrika Selatan, misalnya, ada tradisi disebut Kramat atau Mazaar. Jangan dibaca seperti nama makanan Timur Tengah. Kramat adalah makam tokoh suci dan pejuang Islam awal punya pengaruh besar terhadap masyarakat Muslim setempat.

Makam-makam ini sering menjadi tujuan ziarah. Sebagian dianggap memiliki nilai spiritual khusus dan menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme serta penindasan.

Salah satu paling terkenal adalah makam Syekh Yusuf Al-Makasari. Nah, ini baru bikin orang Indonesia boleh sedikit membusungkan dada. Syekh Yusuf berasal dari Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan. Ia seorang ulama besar diasingkan Belanda ke Afrika Selatan. Ia wafat pada 1699.

Namanya kemudian bukan hanya dikenang di Indonesia. Syekh Yusuf diakui sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dan Afrika Selatan. Kisah perjuangannya disebut menginspirasi Nelson Mandela.

Ada orang Indonesia dahulu dibuang penjajah ke Afrika, tetapi setelah wafat justru menjadi bagian penting sejarah Afrika Selatan. Hidup kadang memang seperti sinetron. Niat penjajah membuang seseorang jauh-jauh, malah membuat namanya melompat benua.

Di Cape Town berkembang legenda tentang Lingkaran Makam, yaitu makam para wali dipercaya membentuk lingkaran pelindung kota dari bencana alam. Secara ilmiah, tentu legenda tetap perlu diperlakukan sebagai legenda. Jangan sampai besok ada pejabat bikin proposal anggaran, “Pembangunan Lingkaran Wali Tahap II untuk Mitigasi Gempa.”

Namun kepercayaan semacam itu menunjukkan sesuatu yang penting. Bagi sebagian masyarakat, makam bukan sekadar lokasi jenazah, melainkan ruang hubungan antara sejarah, spiritualitas, dan identitas komunitas.

Geser ke Afrika Utara. Di Kairouan, Tunisia, terdapat Pemakaman Quraisy, kompleks pemakaman bersejarah jauh dari kesan “tanah kosong dengan dua batu”. Di sana ditemukan makam berkubah, makam berbahan marmer, bahkan nisan dengan tulisan khat Kufi kuno.

Tempat ini dikaitkan dengan para tabiin dari suku Quraisy dan tokoh-tokoh ulama besar, termasuk Imam Sahnun, ulama yang punya peran penting dalam penyebaran mazhab Maliki di Afrika Utara.

Pengelolaan makamnya pun menarik. Area pemakaman dibagi berdasarkan kelompok tertentu, misalnya kawasan keluarga, kawasan individu, area untuk orang-orang bernama Ahmad dan Muhammad.

Kalau diterapkan di Indonesia, mungkin pengurus makam akan pusing.

“Blok Ahmad di mana?”

“Ahmad yang mana?”

“Ahmad bin siapa?”

“Ya Ahmad saja.”

“Waduh, itu bisa satu kecamatan.”

Kita kemudian bergerak ke Tanduk Afrika, wilayah yang mencakup Somaliland, Djibouti, dan Ethiopia. Di sini sejarah makam menunjukkan bagaimana tradisi lokal bertransformasi setelah Islam datang.

Sebelum Islam berkembang, masyarakat nomaden memiliki kebiasaan menguburkan jenazah di bawah tumpukan batu. Bentuk dan ukurannya bermacam-macam, kadang dapat membentuk kawasan pemakaman luas.

Ketika pemukiman permanen berkembang dan Islam masuk sekitar abad ke-13 hingga ke-16, pola penguburan berubah. Muncullah makam kecil berbentuk persegi panjang, menghadap kiblat, dan biasanya dikelompokkan di pinggiran permukiman.

Perubahan ini memperlihatkan, Islam tidak masuk ke ruang kosong. Ia datang ke masyarakat sudah memiliki tradisi kematian sendiri. Menariknya, jejak lama tidak selalu hilang begitu saja. Di beberapa tempat, tradisi lama dan praktik Islam hidup berdampingan.

Salah satu situs penting adalah Masjid Al-Nejashi di Ethiopia. Masjid ini diyakini berkaitan dengan masjid pertama di Afrika dan makam para sahabat Nabi yang melakukan hijrah pertama ke Habasyah.

Ada satu benang merah cukup kuat dari berbagai penelitian arkeologi di Afrika, orientasi makam Muslim mengarah ke kiblat.

Penelitian terhadap makam Muslim tertua di Eropa menemukan jasad yang diidentifikasi sebagai prajurit Berber dari Afrika Utara. Sementara penelitian terhadap ratusan makam Islam dari abad ke-15 hingga ke-20 di Massawa, Eritrea, menunjukkan keseragaman dalam orientasi dan sejumlah unsur ritual maupun arsitektur. Artinya, bentuk makam boleh berbeda, tetapi arah pulangnya tetap sama.

Sekarang kita lompat ke Asia Tengah. Di kawasan ini, pemakaman menjadi arena pertemuan antara Islam dan tradisi pra-Islam. Setelah Islam berkembang, sebagian masyarakat tetap mempertahankan kebiasaan lama.

Ada siklus berkabung berlangsung sampai satu tahun. Dalam kepercayaan tertentu, almarhum dianggap secara bertahap masuk ke alam roh. Kemudian dapat berperan sebagai pelindung keturunannya.

Di Lembah Alamedin, Kirgizstan, misalnya, ditemukan praktik pengorbanan hewan di tempat-tempat dianggap keramat. Ada pula kebiasaan mengikatkan kain pada pohon atau semak dekat makam dan mata air. Tradisi ini memiliki akar pada kepercayaan terhadap roh alam dan leluhur.

Tetapi jangan mengira seluruh Asia Tengah berjalan seperti itu. Di Tashbulak, Uzbekistan, ditemukan bukti arkeologis makam Islam dari abad ke-8 menunjukkan kepatuhan kuat terhadap bentuk kubur dan posisi jenazah sesuai aturan Islam.

Ini menarik karena menunjukkan, Islamisasi kawasan pinggiran ternyata tidak selalu berlangsung pelan-pelan sambil menunggu masyarakat “move on” dari tradisi lama.

Ada wilayah beradaptasi cepat. Ada mencampur unsur budaya. Ada pula mempertahankan ritual lama. Manusia ternyata kalau urusan tradisi memang tidak pernah sesederhana mengganti aplikasi.

Lalu kita terbang ke Asia Selatan. Di wilayah mayoritas penduduk aslinya memiliki tradisi kremasi Hindu, kedatangan Islam membawa pola pemakaman berbeda. Penguburan menjadi bagian penting dari identitas komunitas Muslim.

Pada saat sama, lahirlah tradisi makam monumental. Makam megah awalnya lebih banyak dimiliki orang kaya dan penguasa. Fungsinya bukan sekadar tempat peristirahatan, tetapi juga alat mempertahankan ingatan dinasti dan menunjukkan kekuasaan.

Dengan kata lain, ada penguasa mungkin sudah meninggal, tetapi makamnya masih bekerja sebagai baliho politik. Salah satu contoh awal arsitektur makam rumit terdapat di Lembah Gomal, Pakistan, yang diperkirakan berasal dari abad ke-11 atau ke-12.

Bangunannya berbentuk persegi, memiliki menara runcing di sudut, lengkungan pada setiap sisi, serta dihiasi ubin pirus dengan pola geometris dan flora. Pengaruh Asia Tengah, termasuk Bukhara dan Chisht, sangat terasa. Tetapi paling menarik adalah makam para sufi.

Makam wali tidak sekadar dikunjungi untuk mengenang. Ia menjadi pusat ziarah dan perayaan Urs, yaitu peringatan wafat seorang wali yang dalam tradisi tertentu dipandang sebagai “pernikahan mistis” dengan Tuhan.

Dalam perayaan Urs bisa terdapat doa, pembacaan Al-Qur’an, musik Qawwali, hingga pembagian makanan gratis. Makam berubah menjadi ruang spiritual sekaligus ruang sosial.

Sekarang pulang ke Asia Tenggara. Di Indonesia, Malaysia, Brunei, Pattani di Thailand Selatan, sampai Mindanao di Filipina Selatan, terdapat pola hampir serupa. Ziarah ke makam tokoh agama, wali, sultan, atau leluhur dipadukan dengan budaya lokal.

Salah satu bukti tertua Islam di Nusantara adalah makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, bertahun 1082 M atau 475 H.

Di Nusantara, makam juga sering berada di tempat lebih tinggi. Ini menarik karena tradisi tersebut memiliki hubungan dengan kebiasaan lama masyarakat Nusantara menempatkan tempat pemujaan leluhur di dataran tinggi, seperti konsep punden berundak dan tradisi Hindu-Buddha.

Makam wali dan sultan kemudian sering diberi bangunan pelindung bernama cungkup. Cungkup makam Sunan Giri dan Sunan Drajat, misalnya, memperlihatkan kuatnya percampuran unsur Islam dengan arsitektur lokal.

Di Jawa ada pula tradisi Nyadran, yaitu kegiatan berkumpul dan mendoakan leluhur di makam menjelang Ramadan.

Di sini kita melihat sesuatu sangat khas Nusantara. Agama datang, budaya tidak selalu dibuang ke tong sampah. Sebagian disaring, dinegosiasikan, lalu diberi makna baru.

Bahkan nisan kuno Nusantara menyimpan cerita internasional. Peneliti menemukan kemiripan bentuk dan material antara sejumlah nisan kuno di Aceh dan Sumatera Utara dengan nisan di Azerbaijan. Ini mengindikasikan adanya hubungan pengaruh dari Asia Tengah atau kawasan Kaukasus.

Jangan kira nisan tua di Aceh cuma batu yang sudah lama berdiri lalu diam-diam berlumut. Bisa jadi ia sedang membawa cerita perjalanan manusia dari satu ujung dunia ke ujung dunia lainnya.

Makam Wali Songo di Jawa Timur seperti Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Ampel, dan Sunan Giri sampai sekarang ramai diziarahi. Makam Loang Baloq di Lombok dikunjungi peziarah dari Malaysia dan Brunei.

Kesimpulannya mulai terlihat. Makam Muslim itu bukan satu model global dicetak dari pabrik sama. Ada lahir dari fikih. Ada dibentuk iklim. Ada dipengaruhi kerajaan. Ada menyerap tradisi lokal. Ada menjadi simbol perlawanan. Ada berubah menjadi pusat ziarah. Ada pula diam-diam menyimpan jejak perdagangan dan migrasi antarperadaban.

Kuburan akhirnya seperti buku sejarah ditulis memakai batu. Bedanya, buku biasa bisa kita tutup. Kalau makam, kitabiasanya datang sambil membuka kenangan.

Tunggu Seri 3. Di sana persoalannya lebih brutal. Jenazah mau dikubur di mana kalau tanahnya makin mahal? Jakarta mulai kehabisan lahan. Kuala Lumpur menghitung umur makam. Singapura cuma memberi waktu 15 tahun. Sydney sudah pusing. Sheffield ikut ngos-ngosan.

Bahkan peti mati pun masuk arena. Ada peti Rp24,5 juta. Ada makam bertumpuk. Ada makam dipakai bergiliran. So, setelah manusia berebut tanah ketika hidup, ternyata setelah mati pun urusan tanah belum tentu selesai. (bersambung)

Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar

Admin Ikhbarneo
Admin Ikhbarneo

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *