
Kalau seorang pernah singgah di Pontianak, jangan kaget kalau baru turun dari kapal atau keluar dari bandara sudah disapa orang dengan nada tinggi, “Hoi, dari mana kau ni?” Tenang dulu, itu bukan marah. Itu tanda keakraban di sebagian daerah salah satunya di Kalimantan Barat, kalau orang sudah ngomong keras, itu artinya mereka sudah sayang. Kalau masih pelan, mungkin sebagian orang mengira belum percaya.
Begitulah gaya masyarakat Kalbar: lugas tapi bersahaja, ceplas-ceplos tapi jujur, keras di lidah tapi lembut di hati. Bagi sebagian orang luar, apalagi yang terbiasa dengan gaya bicara halus ala Jawa atau Sunda, suara orang Pontianak kadang bikin jantung copot. Tapi setelah dua hari saja di sana, orang biasanya mulai paham: “Ooo… ternyata begini cara mereka bercanda.”
Lucunya, banyak orang Kalbar sendiri yang sadar akan gaya mereka ini. “Kami ni kalau ngomong memang macam orang marah,” kata seorang nelayan di tepi Sungai Kapuas sambil tertawa. “Padahal hati kami lembut bah, cuma lidah ni kadang nyolot sikit.” Itulah kejujuran khas Kalbar jujur sampai ke nada suara.
Masyarakat Kalimantan Barat tumbuh di tepi sungai yang panjangnya sampai ratusan kilometer. Bayangkan, dari hulu ke hilir, suara orang harus terdengar di tengah riuh ombak, suara motor air, dan deru pasar apung. Mau bicara lembut-lembut, bisa tak kedengaran. Maka tak heran kalau sejak dulu orang Kalbar terbiasa berbicara dengan suara lantang dan jelas bukan marah, tapi supaya pesan sampai.
Seorang dosen linguistik di Pontianak pernah meneliti, “Intonasi orang Pontianak itu hasil latihan alam. Kalau mau ngobrol di pasar ikan, tak bisa pakai suara pelan.” Dan itu memang benar. Sampai sekarang pun, nada bicara tinggi itu melekat jadi ciri khas mereka.
Uniknya lagi, bahasa orang Kalbar adalah hasil “perkawinan” banyak budaya. Di satu percakapan, bisa keluar tiga dialek sekaligus: Melayu, Dayak, dan Tionghoa Hakka. Misalnya, ada yang bilang, “Bisi makan, koh?” artinya, “Ada makanan, bang?”
Kata “bisi” dari bahasa Dayak, sedangkan “koh” dari dialek Tionghoa. Bayangkan, dalam satu kalimat, sudah tercermin tiga dunia yang hidup berdampingan tanpa ribut. Masyarakat Kalbar tak repot soal “bahasa siapa.” Yang penting, bisa nyambung, bisa ketawa bareng.
Itu sebabnya mereka jarang ribut soal perbedaan. Hidup di Kalbar mengajarkan bahwa identitas itu bukan untuk diadu, tapi untuk dipadukan. Coba saja lihat pasar-pasar di Pontianak atau Singkawang.
Penjualnya bisa orang Melayu, pembelinya Dayak, yang punya toko orang Tionghoa. Tapi kalau sudah tawar-menawar, semua pakai bahasa yang sama: bahasa tawa.
“Berapa nih, Koh?” “Murah bah, kau ni suka nak minta murah macam mau buka warung sendiri.” Semua tertawa. Begitulah, komunikasi di Kalbar bukan sekadar tukar kata, tapi juga tukar rasa. Ada satu hal menarik: orang Kalbar lebih percaya pada ucapan yang jujur daripada kata yang manis.
Dalam budaya mereka, ada ungkapan lama, “Kata itu maruah, lidah itu harga diri.” Maknanya, kehormatan seseorang tergantung dari seberapa jujur ia berbicara.
Jadi, kalau orang Pontianak bilang sesuatu secara blak-blakan, jangan tersinggung dulu. Itu justru tanda kejujuran. Mereka tidak suka berputar-putar. Bagi mereka, kalau salah ya salah, kalau benar ya benar. Mereka lebih rela dianggap kasar daripada berpura-pura sopan tapi bohong.
Pernah suatu kali seorang pendatang dari Jawa bilang, “Orang sini keras-keras bah ngomongnya.” Orang Pontianak di sebelahnya menjawab, “Keras di mulut, tapi tak keras di hati. Kau cuba sakiti kami, baru tau lembutnya hati orang Kalbar.” Semuanya tertawa. Itulah kearifan lokal yang kadang disampaikan lewat humor menegur sambil menghibur, menasihati tanpa menggurui.
Gaya bicara ini juga punya ekspresi tubuh yang khas. Kalau orang Kalbar mengangkat dagu sedikit sambil bilang “Iyo?” itu artinya mereka setuju. Kalau diam tapi senyum miring, hati-hati bisa berarti mereka tidak percaya, tapi malas berdebat.
Dan kalau mereka bilang “Ih, kau ni banyak gaya kali,” jangan tersinggung — itu hanya bentuk keakraban. Malah kalau mereka sudah bisa mengejekmu dengan cara lucu, artinya kau sudah dianggap kawan.
Dalam keseharian, mereka juga sangat menghargai kejujuran dalam tindakan. Karena bagi mereka, orang yang manis di mulut tapi busuk di hati jauh lebih berbahaya daripada orang yang kasar tapi tulus.
Maka tak heran kalau banyak tokoh-tokoh dari Kalbar dikenal tegas, berani bicara, tapi tetap santun dalam sikap. Sekarang, gaya bicara khas ini ikut terbawa ke dunia digital.
Kalau kau buka media sosial orang Pontianak, banyak komentar lucu yang ceplas-ceplos tapi cerdas. Kadang satu kalimat bisa bikin sakit perut karena lucunya tapi tetap ada nilai di baliknya.
Seorang netizen menulis di kolom komentar: “Kau ni kalau ngomong kayak air Kapuas, deras tak henti, tapi bersih juga.” Itu sindiran manis khas Melayu Pontianak. Lucu, tajam, tapi tidak menyakitkan. Itulah kekuatan komunikasi ala Kalbar: humor dan kejujuran berjalan beriringan.
Humor menjadi jembatan agar kejujuran tak terasa pahit. Bicara langsung, tapi tetap mengandung canda, sebab mereka percaya: “Kalau hati sudah tertawa, nasihat pun mudah diterima.” Mungkin di sinilah letak keunikan Kalimantan Barat dibanding daerah lain.
Di sini, orang belajar sopan bukan dengan memilih kata yang lembut, tapi dengan mengendalikan niat. Asal niatnya baik, nada tinggi pun bisa terdengar hangat. Dan di tengah dunia sekarang yang penuh basa-basi digital, sikap seperti ini terasa menyegarkan jujur tanpa takut, terbuka tanpa dibuat-buat.
Kalau mau mengerti Kalbar, jangan dengarkan suaranya saja. Rasakan maknanya. Di balik “Hoi!” yang terdengar galak, tersimpan sapaan hangat. Di balik tawa besar di warung kopi, terselip solidaritas yang kuat. Dan di balik kejujuran yang keras, tersimpan hati yang selembut arus Kapuas di waktu senja.
Jadi, kalau suatu hari kau berkunjung ke Kalbar, dan ada orang berteriak dari jauh, “Hoi, makan dulu lah, jangan gaya lapar-lapar!” Jangan marah. Itu artinya mereka sudah anggap kau kawan. Mungkin bahkan sudah siap menambah nasi satu centong lagi untukmu.
Begitulah Kalimantan Barat: daerah yang suaranya keras tapi hatinya lembut. Mereka berbicara dengan nada tinggi, tapi dengan niat yang rendah hati. Dan di setiap kata lugas yang mereka ucapkan, tersimpan nilai lama yang masih hidup hingga kini bahwa kejujuran selalu lebih indah daripada kepura-puraan.
Pontianak, 10 Desember 2025







