
Ada seorang pemuda Barat, ketika diwawancarai, pernah mengatakan kurang lebih demikian:
“Ketika saya berumur 27 tahun, saya sudah memiliki segalanya. Saya bisa membeli apa pun yang saya inginkan, saya bisa melakukan apa pun yang saya mau. Tetapi ketika semuanya sudah saya dapatkan, rasa penasaran saya justru mati. Saya mulai bertanya: setelah ini apa? Lalu apa lagi? Akhirnya saya mengalami kejenuhan yang membosankan.”
Menarik sekali.
Sebab ternyata manusia bukan hanya bisa menderita karena tidak memiliki sesuatu. Manusia juga bisa merasa hampa atau menderita ketika sudah terlalu banyak sesuatu. Dan satu hal yang tidak bisa dihilangkan dari dalam diri manusia yaitu “Bosan dan Penasaran”
Kita sering membayangkan kebahagiaan berada di ujung dari semua keinginan kita.
“Nanti kalau saya punya rumah seperti itu, saya akan bahagia.”
“Kalau kendaraan saya sudah bagus, saya akan tenang.”
“Kalau uang saya sudah banyak, saya tidak akan pusing lagi.”
“Kalau saya bisa pergi ke tempat-tempat yang saya inginkan, hidup saya akan sempurna.” Apa lagi dan apa lagi.
Dan setelah semua itu didapatkan, ternyata muncul satu pertanyaan yang sama lagi:
“Lalu apa lagi?”
Kopi nikmat ketika satu gelas. Tetapi kalau satu ember?
Makanan lezat ketika satu piring. Tetapi kalau satu baskom?
Bahkan sesuatu yang paling kita sukai pun, jika diberikan tanpa batas, dapat kehilangan rasa istimewanya.
Mengapa?
Karena manusia memiliki kemampuan untuk terbiasa terhadap kenikmatan.
Apa yang dahulu membuat kita bahagia, lama-kelamaan menjadi biasa.
Dulu kita bermimpi memiliki sesuatu. Setelah memilikinya, kita terbiasa. Setelah terbiasa, mata kembali mencari sesuatu yang lain.
Nabi Muhammad ﷺ telah menggambarkan sifat manusia ini:
لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, ia ingin memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Satu lembah belum cukup.
Dua lembah pun belum tentu cukup.
Karena persoalannya bukan berapa banyak lembah yang dimiliki, tetapi keinginan manusia yang terus melahirkan keinginan baru.
Dan inilah yang sering tidak kita sadari.
Kita mengira kalau semua keinginan terpenuhi, kita akan sampai pada titik di mana tidak ada lagi yang kita inginkan.
Padahal ternyata tidak demikian.
Keinginan manusia seperti garis cakrawala.
Kita berjalan mendekatinya, tetapi cakrawala itu terus menjauh.
Kita mendapatkan apa yang kita kejar, lalu dunia kembali menciptakan sesuatu yang baru untuk dikejar.
Maka kalau seseorang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, ia sedang mengejar sesuatu yang tidak akan pernah selesai.
Karena ada ruang dalam diri manusia yang tidak bisa diisi oleh benda.
Ada rasa haus yang tidak selesai dengan uang.
Ada kegelisahan yang tidak hilang hanya dengan hiburan.
Ada kehampaan yang tidak bisa ditambal dengan menambah kepemilikan.
Sebab yang kita cari sebenarnya bukan selalu lebih banyak, tetapi lebih bermakna.
Maka barangkali masalah terbesar manusia bukan karena ia terlalu sedikit memiliki dunia.
Tetapi karena ia berharap dunia yang terbatas memberikan kebahagiaan yang tidak terbatas.
Dan itu mustahil.
Dunia tidak pernah selesai menawarkan keinginan, Selalu ada sesuatu yang baru untuk dikejar, sesuatu yang baru untuk dimiliki.
Tetapi satu hal yang musti kita pahami, hidup kita punya Batas.
Dan ketika batas itu tiba, pertanyaan “apa lagi” akan berhenti selamanya.
Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan:
Apa yang sudah saya persiapkan untuk kehidupan setelah dunia??
Imam Manshur Alumni Pondok Pesantren Subulussalam Sriwangi Blitang Oku Timur Sumatera Selatan







